Jejak Langkah Kelahiran IPARI

Kehadiran Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) bermula dari kebutuhan mendesak akan sebuah wadah profesi yang mampu menyatukan seluruh Penyuluh Agama di bawah naungan Kementerian Agama. Sebelum IPARI terbentuk, para penyuluh bergerak secara terfragmentasi dalam asosiasi-asosiasi berdasarkan agama masing-masing. Di tengah tuntutan birokrasi yang semakin modern, para penyuluh menyadari bahwa untuk meningkatkan daya tawar dan profesionalisme, mereka memerlukan satu “rumah besar” yang inklusif dan diakui secara legal oleh negara.

Landasan hukum pembentukan organisasi ini berpijak pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor 9 Tahun 2021. Aturan tersebut mengamanatkan bahwa setiap Jabatan Fungsional wajib memiliki organisasi profesi sebagai sarana pengembangan kompetensi dan kode etik. Tak sekadar memenuhi tuntutan administratif, IPARI dirancang menjadi jembatan bagi para penyuluh dalam menyampaikan aspirasi serta menjaga standar integritas dalam menjalankan tugas penyuluhan di tengah masyarakat yang majemuk.

Momen bersejarah pun tercipta pada tanggal 26 Mei 2023 melalui penyelenggaraan Kongres I IPARI yang bertempat di International Convention Center (ICC), Bogor. Kongres ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan simbol persatuan bagi ribuan Penyuluh Agama dari berbagai iman—mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Khonghucu. Dalam suasana penuh semangat moderasi, forum tersebut secara resmi mendeklarasikan berdirinya IPARI sebagai satu-satunya organisasi profesi bagi Penyuluh Agama di Indonesia.

Salah satu keunikan yang menjadi identitas utama IPARI adalah semangat lintas agama yang diusungnya. Sejak awal berdiri, organisasi ini telah memosisikan diri sebagai garda terdepan dalam merawat kerukunan nasional. Dengan menyatukan para pendidik keagamaan dari latar belakang yang berbeda, IPARI menjadi bukti konkret bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk bekerja sama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan semangat Moderasi Beragama.

Setelah pengukuhan di tingkat nasional, langkah IPARI tidak berhenti di Bogor. Organisasi ini bergerak cepat melakukan konsolidasi dengan membentuk pengurus di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Proses distribusi struktur ini bertujuan agar program kerja, mulai dari peningkatan kapasitas digital hingga advokasi hukum bagi para anggota, dapat menjangkau penyuluh yang bertugas di pelosok nusantara, memastikan tidak ada rekan sejawat yang tertinggal dalam arus transformasi birokrasi.

Kini, IPARI telah bertransformasi menjadi pilar penting bagi Kementerian Agama dalam menyukseskan berbagai program pembangunan nasional melalui bahasa agama. Sebagai organisasi yang masih tergolong muda namun visioner, IPARI terus berupaya menjawab tantangan zaman dengan memperkuat literasi keagamaan dan sosial para anggotanya. Sejarah singkat ini mencatat bahwa IPARI bukan hanya tentang struktur organisasi, melainkan tentang komitmen kolektif untuk menjadi suluh yang menerangi kehidupan berbangsa dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.